by

Momen Brutal! Detik-detik Seekor Kambing “Lumat” Adrenalin Belasan Pejabat

BENGKULU SELATAN | DESA.zoneTanpa ekspresi sungkan sedikitpun, seekor kambing betina terus merenggut dan mengunyah daun sawit segar di depan belasan pejabat Kabupaten Bengkulu Selatan, saat mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Kedurang Ilir (KDI), Rabu (5/2/2020) siang.

Ironisnya, aksi ekstrim Si Kambing yang identitas dan pemiliknya belum diketahui ini, dilakukan saat situasi musyawarah memanas terkait pembahasan strategi optimalisasi dan efektifitas pemberlakuan Peraturan Desa (Perdes) Penertiban Hewan Ternak.

top

Diakui para peserta Musrebangcam, problema penertiban hewan ternak di KDI memang belum terpecahkan, meski telah ada Peraturan Daerah (Perda) dan Perdes-nya. Bahkan, kompetisi manusia versus hewan ini masih cenderung sulit dimenangkan kaum manusia.

Setiap tahun, tidak sedikit tanaman di lahan pertanian dan tumbuhan pekarangan dikabarkan dirusak kawanan sapi, kambing dan kerbau yang dilepasliarkan. Konyolnya, petani setempat justru lebih pilih membuat pagar keliling areal sawah dibanding mengandangkan ternak sebagai pelaku.

Menurut Kepala Bappeda dan Litbang Bengkulu Selatan, Sukarni Dunip, sekitar 90,7 persen ternak —khususnya sapi— di Bumi Sekundang Setungguan dipelihara di luar kandang.

“Pemelihan secara ekstensif ini tentu beresiko rendahnya produktifitas (berbanding terbalik dengan mortalitas-red) ternak. Tahun 2017 saja, jumlah sapi yang mati di daerah kita di atas 1.500 ekor,” sesalnya di depan seratusan peserta Musrenbangcam.

Mantan Kepala Dinas Pertanian ini mengajak para peternak beralih ke intensifitas ternak yang mengedepankan panca usaha peternakan, meliputi penyiapan bibit unggul, pemberian pakan berkualitas, perkandangan memadai, kesehatan terjaga, perkembangbiakan tinggi dan teratur, manajemen terarah, dan pemasaran yang menguntungkan.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Asih Kadarinah juga mengaku kewalahan kalau penertiban hewan ternak di desa-desa se-KDI harus menjadi urusan instansinya sendiri.

Sebab, selain desa-desa ini sejak tahun lalu sudah memiliki Perdes masing-masing, dia menilai penanganan hewan ternak langsung menggunakan Perda akan memantik resiko benturan lebih tinggi, mengingat sanksi dalam Perda lebih berat dibanding Perdes.

Asih menceritakan, Satpol PP pernah mencoba menertibkan beberapa ternak sapi yang kedapatan tengah “plesir” di jalan raya dan merusak tanaman warga di wilayah KDI. Tapi kendaraan pengangkut sapi-sapi ini dicegat warga lainnya, diduga pemilik iternak, di jalan.

Satpol PP
Sekretaris Satpol PP Kabupaten Bengkulu Selatan, Asih Kadarinah memaparkan hambatan yang dihadapi saat penertiban hewan ternak di desa-desa berdasarkan Perda.

Menghindari benturan dengan warga, mantan Sekretaris Inspektorat Daerah ini lebih memilih cara persuasif. Apalagi, menurut dia, pada Pasal 5 Perda Hewan Ternak menyebutkan adanya peran serta masyarakat dalam upaya penertiban.

Menyikapi persoalan ini, Camat KDI Marwin SSos menyatakan, pihaknya telah mengarahkan seluruh desa di wilayah ini menyisihkan Dana Desa (DD) tahun 2020 untuk pembelian mesin pencacah pakan, pelatihan cara menggunakannya, termasuk pelatihan sporadis tentang intensifitas pemeliharaan ternak.

Mantan Kabag Humas Setda Bengkulu Selatan dan mantan Camat Bunga Mas ini menilai, tidak efektifnya pemberlakuan Perdes Hewan Ternak lebih disebabkan ketidaktahuan para peternak tatalaksana pemeliharaan yang baik, sehingga terkesan tidak peduli aturan demi keberlangsungan hidup ternak-ternak mereka.

Dinas Pertanian
Kepala Distan Bengkulu Selatan, Ir Silustero MM menyampaikan kesiapan pihaknya memberikan bimbingan teknis intensifitas usaha peternakan, serta peluang kredit usaha.

Padahal, kata Marwin, tidak sedikit pula petani merugi akibat persoalan ini. Selama ini, pemerintah kecamatan sudah berupaya memberi pemahaman dan motivasi melalui farum-forum pertemuan di desa dan komunikasi lapangan, namun belum membuahkan hasil sesuai harapan.

“Pokoknya mulai tahun ini harus kita dorong lebih kuat, desa harus siap menganggarkan untuk mendukung intensifitas ini. Supaya petani tidak terus dirugikan, dan pekarangan pun bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam,” pungkasnya.

Support Gratis Dua OPD

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Ir Silustero MM dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Ir Iskandar AZ menyatakan siap menerjunkan tenaga teknis mereka ke KDI memberikan support gratis berupa bimbingan teknis intensifitas peternakan dan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai basis ketahanan pangan keluarga.

Kedua pimpinan OPD ini mempersilahkan pemerintah desa membuat pemberitahuan jadwal dan tempat pelatihan dimaksud. Mereka akan turun langsung atau mengirim tenaga teknis berkompeten di bidangnya.

Bahkan, berikutnya para petani dan peternak juga akan difasilitasi mengajukan kredit permodalan usaha kepada lembaga keuangan legal.[ris]

top