by

Uji Dampak, Trik Jitu Pemdes Lubuk Sirih Ulu Tertibkan Ternak

BENGKULU SELATAN | DESA.zoneMengantisipasi dampak sosial kontra produktif kalau Peraturan Desa (Perdes) penertiban hewan ternak diberlakukan secara kaku, Pemerintah Lubuk Sirih Ulu lebih memilih langkah persuasif berwujud pemberdayaan potensi ketahanan pangan.

Desa pemangku historia Syech Raja Mulia di Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu ini, memang hanya dihuni kurang dari 200 kepala keluarga (KK). Namun, menurut penjabat kepala desa setempat, Adang Sutrisno SE, hampir semua KK memiliki ternak kambing, sapi atau kerbau.

top

“Sebagian masih dilepasliarkan. Kalau Perdes Hewan Ternak (sudah diberlakukan sejak era Kades Muhardin Effendi menjabat-red) sekarang kita lanjutkan membabi-buta, sangat beresiko (dapat reaksi negatif-red). Jadi, kami uji dampak dulu,” jelasnya kepada DesaZone, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/2/2020) siang.

Menurut Adang, lebih separuh dari total 93 rumah di desa itu memiliki pekarangan lumayan luas. Kalau diberdayakan, dapat mendukung program ketahanan pangan keluarga, sekaligus membangkitkan kesadaran masyarakat manfaat ganda pengandangan ternak.

“Jadi akan kami mulai dengan membuat pelatihan bercocok tanam palawija dan tanaman obat keluarga, diiringi pemberian bibit gratis untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing,” timpalnya.

Adang memprediksi, berikutnya akan lahir pemikiran betapa repotnya mencegah ternak liar merusak tanaman pekarangan. Sehingga akan muncul inisiatif mengandangkan ternak sebagai langkah intensifitas pemeliharaan ternak itu sendiri, berikut kemudahan mengumpulkan dan mengolah tinja dan urinnya sebagai bahan baku pupuk organik.

“Sudah kami anggarkan di APBDes. Setelah pencairan dana desa tahap kedua, kita laksanakan. Mudah-mudahan berjalan sesuai rencana, dan berikutnya dapat menguntungkan semua pihak,” harapnya.

Adang mengaku iri dengan perubahan drastis wajah tiga desa —Kota Bumi Baru, Tanjung Menang dan Gunung Ayu— di Kecamatan Seginim pasca Perdes Hewan Ternak diberlakukan efektif. Dari pekarangan hingga pinggiran badan jalan ketiga desa itu dipenuhi tanaman palawija yang tumbuh subur.

Sebelumnya, warga tiga desa itu juga mengandangkan tanaman supaya tidak menjadi korban pengrusakan, sementara ternak sebagai “pelaku” tetap dilepasliarkan.

Kemudian, Adang juga memberi contoh demplot hidroponik di depan kantornya. Sekitar dua tahun lalu, Pemerintah Desa Lubuk Sirih Ulu harus mengeluarkan anggaran lebih untuk mengamanan media praktikum keterampilan kader desa itu dari gangguan ternak.

“Tentu hanya butuh atap sebagai naungan komponen media tanam, kalau ternak tidak menjadi ancaman. Kesadaran ini yang perlu kita gali pelan-pelan dari diri masyarakat. Jadi sudah disepakati caranya dengan uji dampak, bukan alat paksa (peraturan dan sanksi tegas-red),” bebernya.

Keberadaan satu kelompok rumah pangan lestari (KRPL) dan satu KBD di Lubuk Sirih Ulu, bagi Adang, juga bakal sangat membantu upaya pemanfaatan pekarangan, intensifitas usaha peternakan dan penertiban hewan ternak tersebut.[im]

top